Kemenag Sleman News â Suasana teduh penuh makna menyelimuti Bangsal Kepatihan saat umat Hindu bersama tokoh lintas agama dan pemangku kebijakan menghadiri Dharma Shanti sebagai penutup rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Mengusung tema âHamemayu Hayuning Bawana â Vasudhaiva Kutumbakam (Satu Bumi, Satu Keluarga)â, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguat komitmen merawat kerukunan umat beragama, Jumat (10/4/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, jajaran Forkopimda, Kepala Kanwil Kemenag DIY, para Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Ketua FKUB, serta tokoh lintas agama dan organisasi keagamaan. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan bahwa harmoni sosial merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor.
Dalam sambutannya, Sri Sultan HB X menegaskan bahwa keseimbangan hidup manusia tidak terlepas dari relasi spiritual dengan Tuhan dan sesama.
âTerang dan gelap kehidupan bermula dari jalan yang ditempuh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Dharma Shanti adalah kelanjutan dari laku hening menuju satyam, siwam, sundaramâkebenaran, kesucian, dan keindahan,â ungkapnya.

Dharma Shanti bukan sekadar seremoni, melainkan momentum strategis untuk membuka pintu maaf serta memperkuat harmoni, baik di internal umat Hindu maupun antarumat beragama. Nilai ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya dalam penguatan moderasi beragama sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman menegaskan bahwa kehadiran Kemenag Sleman dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen membina kerukunan umat beragama di Bumi Sembada.
âDharma Shanti menjadi pengingat bahwa kerukunan bukan hanya wacana, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling menghargai dan kolaborasi. Kemenag Sleman akan terus hadir dan menguatkan ruang-ruang harmoni di tengah masyarakat,â ujarnya.
Semangat kebersamaan semakin terasa dengan penampilan seni budaya, di antaranya Angklung Wanita Hindu Dharma Indonesia Provinsi DIY, Gamelan Pasraman Padma Buana, Tari Lawung Jajar, serta Paguyuban Banguntopo (Gema Jagatnatha). Ragam pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya yang mempererat persaudaraan.
Melalui Dharma Shanti, pesan universal tentang persatuan dan kasih sayang lintas umat kembali diteguhkan. Kemenag Sleman pun terus menunjukkan peran strategisnya dalam mengawal terwujudnya masyarakat religius yang harmonis, selaras dengan semangat Sleman Religi yang inklusif dan berkelanjutan.(isa)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.