Kemenag Sleman News (Humas) –Yogyakarta â Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam penyelenggaraan Rukyatul Hilal (RH) sebagai bagian dari pelayanan keagamaan yang sarat nilai ilmu dan iman. Kegiatan pemantauan hilal dalam rangka penetapan 1 Ramadan 1447 H ini menjadi bagian dari pelaksanaan RH serentak di 96 titik se-Indonesia.
Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, menyampaikan bahwa negara hadir secara resmi dalam penyelenggaraan rukyatul hilal sebagai wujud tanggung jawab pelayanan kepada umat. Menurutnya, proses rukyat bukan sekadar observasi astronomi, tetapi juga mengandung dimensi spiritual dan persaudaraan.
âDi dalamnya ada proses ilmu dan iman, serta ukhuwah yang harus selalu kita jaga. Kita hadir di sini untuk menyatukan ukhuwah Islamiah,â tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga eksistensi ilmu falak yang kini semakin langka diminati generasi muda. POB Syekh Belabelu disebutnya sebagai salah satu titik pengamatan terbaik di Indonesia. Ke depan, pihaknya berkomitmen agar POB tersebut dapat dimanfaatkan publik sebagai sarana edukasi astronomi dan pengembangan ilmu falak.
âHarapan kita, tempat ini tidak hanya untuk rukyat, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran astronomi dan ilmu falak agar keilmuannya tetap terjaga,â ujarnya.

Pelaksanaan rukyat kali ini turut dihadiri para Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-DIY, termasuk Kepala Kantor Kemenag Sleman, sebagai bentuk sinergi dan soliditas kelembagaan dalam pelayanan keagamaan. Kehadiran jajaran pimpinan daerah ini mempertegas komitmen bersama menjaga harmonisasi umat melalui mekanisme penetapan awal Ramadan yang transparan dan berbasis ilmiah.
Sementara itu, Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag DIY, Nurhuda, selaku penyelenggara Rukyatul Hilal penetapan 1 Ramadan 1447 H, menegaskan bahwa rukyat merupakan bagian dari pelayanan keagamaan negara kepada masyarakat. Ia mengakui potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan sangat mungkin terjadi, namun hal tersebut tidak boleh mengganggu persatuan umat.
âPerbedaan sangat mungkin terjadi, tetapi ini bukan menjadi masalah. Ukhuwah Islamiah harus tetap terjaga,â ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa dinamika Yogyakarta sebagai kota pelajar menjadi nilai tambah tersendiri. Keterlibatan para pelajar dalam proses rukyat menjadi kebanggaan sekaligus investasi kaderisasi keilmuan falak di masa depan.
Dari sisi astronomi, paparan narasumber memperkaya pemahaman peserta. Budiarto dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY menjelaskan bahwa berdasarkan peta ketinggian hilal pada hari pengamatan, posisi hilal di wilayah Indonesia masih berada pada kisaran minus 1 hingga minus 3 derajat. Elongasi pun masih rendah, antara 1,2 hingga 2 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS.
Namun demikian, ia memastikan bahwa posisi hilal keesokan hari diprediksi lebih tinggi dan sudah berada pada posisi positif, dengan elongasi antara 10 hingga 12 derajat, melampaui kriteria MABIMS. BMKG sendiri bekerja sama dengan Kemenag di 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Sementara itu, Ketua Badan Hisab Rukyat DIY, Mutoha Arkanuddin, menegaskan bahwa seluruh hasil rukyat daerah tetap menunggu keputusan resmi melalui sidang isbat yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI.
Dengan semangat ilmu, iman, dan ukhuwah, pelaksanaan Rukyatul Hilal di DIY tidak hanya menjadi momentum penentuan awal Ramadan, tetapi juga penguatan literasi falak dan persatuan umat dalam bingkai pelayanan keagamaan negara.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.